groupthink teori


 Groupthink : didefinisikan sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka dalam menilai semua rencana tindakan yang ada. Kesepakatan antar anggota kelompok atau kesepakatan kelompok dalam keinginan mereka akan kekompakan dan kesepakatan serta mencapai sebuah tujuan atau keputusan lebih besar motivasinya dibandingkan menilai akan kebenaran keputusan tersebut terhadap moral dan etis kelompok yang berlaku.
> Irving Janis berpendapat bahwa anggota-anggota kelompok seringkali terlibat di dalam sebuah gaya pertimbangan dimana sebuah kebutuhan semua orang untuk sepakat lebih berat dibandingkan akal sehat. Yaitu seperti jika kita di dalam sebuah kelompok, biasanya kita hanya berkeinginan untuk mencapai suatu tujuan itu lebih penting, dibanding menghasilkan solusi pemecahan masalah yang masuk akal.
> Iriving Janis juga berpendapat, dalam sebuah kelompok yang anggotanya memiliki banyak kemiripan atau kesamaan latar belakang dan memiliki hubungan baik antar anggotanya akan rentan terhadap groupthink apabila :
· Tidak dapat menyadari jika terdapat perbedaan pendapat antar anggota kelompok.
· Mereka menghiraukan atau menekan sebuah konflik hanya agar bisa bergaul dengan baik.
· Anggota kelompok tidak secara maksimal mempertimbangkan solusi yang ada.
Dan di dalam titik ini, di dalam kelompok tersebut, menciptakan perdamaian itu lebih penting daripada membuat keputusan yang sesuai.


ASUMSI-ASUMSI GROUPTHINK
> Groupthink merupakan teori yang diasosiasikan dengan “komunikasi kelompok kecil”
> Dalam hal ini Irving Janis memfokuskan penelitiannya padaProblem-Solving Group dan task-oriented group, yang mempunyai tujuan utamanya yaitu untuk mengambil keputusan dan memberikan rekomendasi kebijakan akan solusi-solusi yang ada.
> Berikut merupakan 3 asumsi penting dalam Groupthink Theory :
1. Kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mempromosikan kohesivitas yang tinggi.
Ernest Bormann mengamati bahwa anggota kelompok sering kali memiliki perasaan yang sama atau investasi emosional, maka mereka cenderung untuk mempertahankan identitas kelompok. Pemikirian kolektif ini biasanya menyebabkan sebuah kelompok memiliki hubungan yang baik, tetap bersatu, memiliki semangat kebersamaan dan memiliki kohesivitas tinggi.
Kohesivitas : batasan dimana anggota-anggota suatu kelompok bersedia untuk bekerja sama. Atau bisa dibilang, rasa kebersamaan dari kelompok tersebut. Kelompok dimana anggotanya saling tertarik dengan sikap, nilai dan perilaku anggota lainnya cenderung dapat dikatakan kohesif.
2. Pemecahan masalah di dalam kelompok pada dasarnya merupakan proses yang terpadu.
Para anggota biasanya berusaha untuk dapat bergaul dengan baik. Dennis Gouran mengamati bahwa kelompok-kelompok rentan terhadap batasan afiliatif (affiliative constraints), yang berarti bahwa anggota kelompok lebih memilih untuk menyimpan masukan atau pendapat mereka daripada mengambil risiko pendapat mereka ditolak. Menurut Gouran, mereka akan cenderung untuk “memberikan perhatian lebih pada pemeliharaan kelompok daripada isu-isu yang sedang dipertimbangkan”. Oleh karena itu, anggota kelompok lebih tertarik mengikuti pemimpin saat pengambilan keputusan tiba.
3. Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok sering kali bersifat kompleks.
Usia, sifat kompetitif, ukuran, kecerdasan, komposisi gender gaya kepemimpinan dan latar belakang budaya dari para anggota kelompok dapat mempengaruhi proses-proses yang terjadi di dalam kelompok. Seperti misalnya karna banyak budaya yang tidak menghargai komunikasi yang terbuka dan ekspresif, beberapa anggota kelompok akan menarik diri dari perdebatan atau dialog, dan hal ini mungkin dapat membuat anggota kelompok yang lain heran, serta bisa mempengaruhi persepsi dari para anggota kelompok, baik yang partisipatif ataupun yang nonpartisipatif. Oleh karena itu, kelompok dan keputusan kelompok dapat menjadi lebih sulit, tetapi biasanya melalui kerja kelompok, orang dapat mencapai tujuan mereka lebih baik dan efisien.



KONDISI PENDAHULU GROUPTHINK
● Kohesivitas Kelompok
Kohesivitas kelompok mendukung terjadinya groupthink.
Di dalam kelompok yang memiliki kohesivitas yang tinggi akan lebih antusias mengenai tugas-tugas mereka, dan anggotanya merasa dimampukan untuk melaksanakan tugas-tugas tambahan, karena kelompok mereka sangat kompak atau kohesif. Walaupun terdapat keuntungannya, tetapi kelompok yang sangat kohesif juga bisa memberikan tekanan yang besar pada anggota kelompoknya untuk memenuhi standard kelompok. Dan biasanya anggota kelompok tidak bersedia untuk mengemukakan keberatan mereka mengenai solusi yang diambil. Maka Irving Janis berpendapat bahwa kohesivitas menuntun kepadagroupthink.
● Faktor Struktural
Karakteristik struktural yang spesifik, atau kesalahan, mendorong terjadinya groupthink. Faktor-faktor ini juga termasuk isolasi kelompok, kurangnya kepemimpinan imparsial, kurangnya prosedur yang jelas dalam mengambil keputusan, dan homogenitas latar belakang anggota kelompok.
→ Isolasi kelompok (group insulation)
Merujuk pada keinginan kelompok untuk tidak terpengaruh oleh pihak di luar kelompok. Padahal ada kemungkinan bahwa pihak di luar kelompok dapat membantu dalam pengambilan keputusan.
→ Kurangnya kepemimpinan imparsial (lack of impartial leadership)
Anggota kelompok dipimpin oleh orang yang memiliki minat pribadi terhadap hasil akhir. Pemimpin berpendapat bahwa opini lain akan merugikan rencananya, dan kepemimpinan alternatif ditekan.
→ Kurangnya prosedur pengambilan keputusan (lack of decision making procedures)
Beberapa kelompok memiliki prosedur untuk mengambil keputusan; kegagalan untuk memiliki norma yang telah disepakati untuk mengevaluasi suatu masalah dapat menimbulkan groupthink. Jika ada masalah di suatu kelompok, mereka masih harus mencari penyebabnya dan sejauh apa masalah teresebut.
→ Homogenitas latar belakang (Homogenity of members’ backgrounds)
Tanpa keragaman latar belakang sosial, pengalaman dan ideology akan mempersulit sebuah kelompok untuk mendebat masalah yang penting.
● Tekanan Kelompok (Group Stress)
Tekanan internal dan eksternal (internal and external stress) yang dialami kelompok dapat menuntun kepada groupthink.Jika suatu kelompok dalam membuat keputusan sedang mengalami tekanan yang berat – baik disebabkan oleh dorongan-dorongan dari luar maupun dari dalam kelompok – mereka cenderung tidak dapat menguasai emosi, sehingga dapat mencari segala cara agar masalah dapat cepat diselesaikan tanpa memikirkan akal sehat, maka kelompok tersebut sedang menuju groupthink.



GEJALA-GEJALA GROUPTHINK
  1. Penilaian Berlebihan terhadap Kelompok / Overestimation of the Group (keyakinan yang keliru, suatu kelompok lebih dari dirinya yang sebenarnya)
1. Ilusi Akan Ketidakrentanan (illusion of invulnerability)
Kelompok ini memiliki keyakinan bahwa mereka cukup istimewa atau hebat untuk mengatasi rintangan-rintangan. Kelompok ini percaya bahwa mereka tidak terkalahkan.
2. Keyakinan akan Moralitas yang Tertanam di dalam Kelompok
Kelompok ini memiliki keyakinan bahwa anggota-anggota kelompoknya bijaksana dan memiliki moral yang baik, sehingga keputusan yang mereka buat juga akan baik pula. Anggota kelompok ini membersihkan diri dari rasa malu atau bersalah, walaupun mereka tidak mengindahkan moral dari keputusan mereka.
  1. Ketertutupan Pikiran / Closed-Mindedness (tidak mengindahkan pengaruh-pengaruh dari luar terhadap kelompok)
1. Stereotip Kelompok Luar (out group stereotypes)
Kelompok memiliki persepsi stereotip terhadap kelompok lawannya (musuhnya), yaitu menekankan bahwa kelompok lawan terlalu lemah atau terlalu bodoh untuk membalas taktik mereka yang ofensif.
2. Rasionalisasi Kolektif (collective rationalization)
Situasi dimana kelompok tidak mengindahkan peringatan-peringatan yang dapat mendorong mereka untuk mempertimbangkan kembali pemikiran mereka sebelum mereka mencapai keputusan akhir.
  1. Tekanan untuk Mencapai Keseragaman / Pressures Toward Uniformity (terjadi ketika para anggota kelompok berusaha untuk menjaga hubungan baik antar anggota)
1. Sensor Diri (self-censorship)
Kecenderungan para anggota kelompok untuk meminimalkan keraguan mereka dan argumen-argumen yang menentang terhadap pemikiran mereka. Membungkam pemikiran-pemikiran pribadi yang menentang pemikiran kelompok dan menggunakan retorika kelompok dapat memperkuat keputusan-keputusan kelompok.
2. Ilusi akan Adanya Kebulatan Suara (illusion of unanimity)
Menganggap kalu diam itu artinya setuju. Karna biasanya dalam groupthink anggota mengikuti pemimpin, sehingga keputusan pemimpin adalah keputusan kelompok, sehingga jika ada anggota yang mempunyai pemikiran yang berbeda dengan pemimpin, anggota lebih memilih diam, maka disinilah dianggap bahwa tidak ada keberatan, dan dianggap bahwa ada kebulatan suara kelompok.
3. Self-Appointed Mindguards
Anggota-anggota kelompok melindungi kelompok dari informasi yang tidak mendukung kelompoknya. Para anggota tersebut melakukan mindguard, yaitu seperti menyaring aliran informasi yang bertolak belakang terhadap kelompoknya. Para mindguardsyakin bahwa mereka bertindak demi kepentingan kelompok mereka.
4. Tekanan Terhadap Para Penentang (pressures on dissenters)
Tekanan atau pengaruh langsung terhadap anggota-anggota kelompok yang menyumbangkan opini, pendapat, pandangan, atau komitmen yang berlawanan terhadap opini mayoritas kelompoknya. 



MENCEGAH TERJADINYA GROUPTHINK
■ Dibutuhkan adanya supervisi dan kontrol (membentuk komite parlementer)
û Mengembangkan sumber daya untuk memonitor proses pembuatan kebijakan.
û Memberi dukungan akan adanya intervensi.
û Mengaitkan kepentingan nasib dengan nasib anggota lain.
■ Mendukung adanya pelaporan kecurangan (suarakan keraguan)
û Hindari menekan kekhawatiran akan keputusan kelompok
û Terus tidak sepakat dan mendebat ketika tidak ada jawaban yang memuaskan
û Pertanyakan asumsi
■ Mengizinkan adanya keberatan (lindungi conscientious objectors)
û Berikan jalan keluar bagi para anggota kelompok
û Jangan menganggap remeh implikasi moral dari sebuah tindakan
û Dengarkan kekhawatiran pribadi anggota akan isu-isu etis di kelompok
■ Menyeimbangkan consensus dan suara terbanyak(mengubah pilihan pengaturan peraturan)
û Kurangi tekanan kepada anggota kelompok yang berada pada posisi minoritas
û Mencegah terjadinya subkelompok (peer group)
û Memperkenalkan pendekatan yang mendukung banyak pendapat dalam pengambilan keputusan



CRITIQUE AND CLOSING
  1. Heurisme
Teori groupthink merupakan teori yang heuristic; teori ini dan banyak elemennya telah diguanakan dalam banyak kajian dan telah mendapat banyak perhatian dari para ilmuwan komunikasi (Cline, Courtright, Parvitt & Johnson, Turner & Pratkanis dan Yetiv). Teori ini telah menghasilkan beberpa asumsi mengenai perilaku kelompok dan Groupthink tetap menjadi bagian yang penting dari literatur pengambilan keputusan dalam kelompok (Aldag & Riggs Fuller, 1998).
  1. Ruang Lingkup
Ruang lingkup teori ini dapat dikatakan sempit, hanya pada kelompok pembuat keputusan yang sedang dalam periode krisis.
  1. Kemungkinan Pengunjian
Jeanne Longley & Dean Pruitt (1980), mereka berpendapat bahwa setengah dari gejala groupthinktidak diasosiasikan dengan pencarian persetujuan – ciri utama teori ini. “sebuah teori harus merupakan progresi logis dari sebuah ide, bukan sebuah karung berisi fenomena yang berkolerasi satu dengan lainnya dalam contoh enam kasus”. Mereka juga melihat bahwa Irving Janis menaruh penghargaan diri dalam diskusi mengenai groupthink namun tidak disebutkan di dalam teorinya. Tapi kemudian Janis menyatakan bahwa penghargaan diri merupakan kondisi pendahulu darigroupthink.
  1. Pengajian Waktu Berjalan
Teori Groupthink telah berhasil melalui pengajian waktu berjalan. Para peneliti terus menginvestigasi banyak fitur utama teori ini dan terus didiskusikan dalam media. Keputusan kebijakan pemerintah akan selalu ada, makagroupthink berkemampuan cukup tinggi untuk bertahan di masa depan. Irving Janis juga dinobatkan sebagai pelopor dalam “bidang studi dinamika sosial”. 


Groupthink mungkin lebih menarik secara intuitif dibanding secara empiris. Pemikiran Irving Janis akan teori ini telah cukup berpengaruh dalam beberapa bidang ilmu, seperti komunikasi, psikologi kognitif dan sosial, antropologi, dan politik. Sedikit orang dapat mendebat kegagalan dari kebijakan asing yang dibahas oleh Janis : kekerasan dan korban yang banyak, hilangnya kepercayaan terhadapa keputusan pemerintah, dan pembuatan kebijakan yang tidak beres. Demi alasan-alasan inilah, Janis diakui telah membantu mengidentifikasi dan mempelajari salah satu tipe masalah pembuatan keputusan kelompok.





ekspedisi Lawu


Cerita dalam negeri, ini saatnya owner pengen cerita ke temen2 blogger semua. Ini adalah sebuah kejadian yang diluar logika saat saya dan satu teman saya kembali melakukan hobby kami sejak SMA yakni mendaki gunung.kami pikir sebagai pemanasan sebelum gunung lain ada baiknya kita latihan dulu di LAWU. Gunung itu kami pilih karena saya sudah sering sekali naik gunung tersebut hal itu mungkin karena gunung Lawu merupakan gunung yang paling dekat dengan rumah dulu. Sebelum ke inti cerita mari kita urut dulu kisahnya dari pemberangkatan. Yapp hari senin 10 oktober 2011 kami merencanakan ekspedisi Lawu berdua saja.karena ide yang mepet jadi perlengkapan yang kami bawa juga tak terlalu siap. Senin pagi kami meninggalkan semua kepentingan lain seperti kuliahJ (jangan ditiru) dan berangkat dengan modal nekat dari kota malang menuju magetan cemoro sewu. Sampai di cemoro sewu sekitar pukul 16.00. istirahat sejenak dan persiapan terakhir akhirnya kamipun memulai pendakian.”bismilahirohmanirahim” begitu kami mengawali pendakian tersebut. Kami tidak ada firasat apa-apa karena kami rasa kami telah benar dan tidak melanggar segala pantangan digunung lawu. Sebelumnya perlu diketahui bagi temen-temen yang mungkin belum tahu bahwa gunung lawu sangat anti terhadap warna hijau pupus. Nahh..pos 1,2,3 kami lewati dengan perasaan baik-baik saja. Lawu saat itu serasa milik kami sendiri dimana tidak ada pendaki lain yang naik ataupun turun. Gelap sudah merasuk dan angin pun semakin kuat menerpa kami. Kira-kira pukul 20.00 kami telah melewati track ter”sadis” yakni jalan yajg dipasangi tiang pengaman kalo temen-temen ngerti.
Perasaan kami masih santai, hal itu karena saya telah mendaki lawu dimalam hari berkali-kali jadi saya yang didepan waktu itu. Entah darimana awalnya setengah jam kami berjalan kami berjumpa dengan pos 5.yaitu pos terakhir dan setelah itu tinggal mengitari bukit dan sampai di warung mbok yem yang terkenal itu.perasaan kami sudah senang dan serasa sudah sampai saja.namun petualangan dimulai dari sini, malam itu kabut sangat tebal hingga jarak pandang hanya 1 meter kedepan. Saya rasa saya tidak mungkin salah megambil rute.hingga kamipun merasa takut dan cemas mulai mendera karena sejak tadi kami hanya berputar-putar ditempat itu.hampir berkali-kali masuk jurang. Sejak saat itu saya menjadi sangat cemas.Lawu sangat sepi, walau seperti itu teman saya yang terlihat takut sudah berteriak meminta pertolongan berkali-kali. Namun tak ada hasilnya seakan tak ada satupun nyawa digunung itu. Hati kami berdua semakin ngeri. Kami hanya takut kami terkena hipotermia.karena suhu saat itu sangatlah ekstrim, berjam-jam hanya berputar-putar seakan kami ada didalam sebuah lingkaran,dan dingin yang semakin datang ditambah lagi fisik kami mulai menurun,akhirnya kami menemukan sebuah gua.
Dan di gua itulah kami berdua menggantungkan sebuah harapan, kami berlindung dibalik bebatuan. Berusaha untuk tetap hidup walau apapun yang terjadi. Sumpah… saat itu adalah saat-saat paling mengerikan dalam perjalanan hidup saya,jujur pikiran saya saat itu sudah mengarah ke negative semata,begitupun dengan temans saya harindra namanya. Diudara seekstrim itu kami berusaha membuat api. 2 pasang sandal gunung, 1 kondom hp, banyak botol kami bakar agar kami tetap hidup. Kami bakar apapun yang bisa dibakar. Tubuh saya bagian bawah serasa sudah tak ada lagi,mati rasa. Saat itu hanya pasrah dari kami berdua. Jika memang harus mati disini setidaknya kami mati sebagai pendaki sejati.mati digunung. Pagi kami rasa lama sekali datang, sekian  lama kami kedinginan ternyata baru jam 01.00 pagi. Ya Allah selamatkan kami tak henti-hentinya kami berdua berdoa seperti itu. Dalam perang melawan dingin tersebut saya masih sempat berpikir.apa ada yang salah? Dan kenapa saya sampai tersesat seperti ini?padahal rute sudah hapal diluar kepala. Tepat jam setengah 3,segala api dan 3 buah korek api kami sudah habis.sekarang tinggal kami saling berangkulan saling bertahan, kami ingin terus hidup saat itu dan bertahan hingga setengah5.saat itu mentari sudah sedikit terlihat. Dengan tertatih-tatih saya coba keluar dari gua itu dan berusaha mengenali dimana lokasi saya sekarang. Berpikir beberapa lama alhamdulilas saya tahu tempat ini. Jika temen-temen ada yang tahu lawu saat itu posisi saya dipagi hari ada di bawah tebing tebing sebelah utara sesudah jolotundo dan sebelum sendang drajat. Saya hanya berpikir bagaimana cara kembali ke track yang sudah dapat saya lihat. Saya merasa bertanggung jawab atas hidup teman saya karena saya sebagai leader dan dianggap lebih pengalaman dari dia. Dari track asli jalur cemoro sewu saya ada dibawah tebing yang dipisahkan jurang.nahh itu yang saya pikirkan sampai saat ini.bagaimana cara saya melewati jurang itu hingga saya bisa sampai ke dasar dan terjebak disana?rasanya tidak mungkin. Entahlah.saya hanya merasa seperti hidup kembali saat itu.perasaan bahagia bercampur syukur. “Urip awake dewe ndaa” .kami pun bisa tersenyum.berjalan 15 menit kami sampai diwarung mbok yem dan cepat-cepat memesan susu mendidih.hhaaa..jam 6 pagi tepat saat itu kami tiba di hargo dalem. Sarapan dan istirahat sejenak.kami bertekad meneruskan ekspedisi maut ini. Kami naik ke puncak tertinggi gunung lawu hargo dumilah pukul 08.00. dan puas bisa sampe puncak dan dalam keadaan hidup.kami habiskan satujam disana.sebelum akhirnya turun melewati jalur cemoro kandang.4jam kami habiskan untuk turun sampai basecamp cemoro kandang, dibawah sembari makan siang diwarung seberang jalan tiba-tiba teman saya menunjukkan sesuatu yang membuat saya kaget.dia membuka isi ranselnya dan menunjukkan sesuatu yang mungkin menjadi penyebab musibah semalam (sekali lagi mungkin) yaitu sebuah pembersih muka yang berwarna hijau muda atau hijau pupus.kami berdua pun serentak menghela nafas. “sudahlah,yang penting kita selamat”

ini adalah foto yang diambil sesaat kami menemukan jalan keluar dari dasar tebing. Dan berjalan menuju sendang drajat.alhamdulilah!!
 Siang itu juga kami langsung pulang menuju malang dan bersiap menjalani hari sepeti biasa. Satu pelajaran yang saya dapat kita perlu menghormati adanya aturan atau pantangan2 yang ada dialam.kita perlu respectJ.
Salam rimba!!!

Teori Strukturasi adaptif


Marshall Scott Poole yang mengembangkan Teori Strukturasi adaptif (Adaptive Structuration Theory). Profesor komunikasi pada Texas A&M University itu dikenal sebagai pakar di bidang komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi, terutama pada sisi metodologi penelitian dan perkembangan teori. Poole mengembangkan teori ini bersama rekan-rekannya, yaitu Robert McPhee dari Arizona State University dan David Seibold dari The University California.
Gagasan Poole berangkat dari teori strukturasi yang dikemukakan Anthony Giddens. Dalam penelitiannya, Gidden mendeskripsikan bagaimana institusi sosial—kelompok dan organisasi, misalnya—diproduksi, direproduksi, dan ditransformasi melalui penggunaan aturan-aturan sosial. Aturan itu dibuat sebagai panduan perilaku anggotanya, sebagaimana cetak biru yang digunakan untuk mengarahkan seorang kontraktor dalam membangun struktur bangunan (West & Turner, 2007:296). Kunci dari memahami komunikasi yang terjadi dalam sebuah kelompok atau organisasi, menurut Gidden, adalah dengan mempelajari struktur yang menjadi fondasi mereka. Gidden membedakan pengertian sistem dan struktur. Sistem adalah kelompok itu sendiri, termasuk juga perilaku yang dilaksanakannya, Sementara struktur adalah aturan-aturan yang mereka sepakati. Dalam contoh di atas, sistem adalah kelompok Rukun Tangga (RT), sedangkan aturan berupa tata tertib warga adalah strukturnya.
Teori ini mengambil nama ‘Strukturasi Adaptif’, karena anggota kelompok secara sengaja meyesuaikan aturan dan sumberdaya untuk mencapai tujuan. Selain itu, strukturasi adalah sesuatu yang lebih kompleks daripada model urutan tunggal. Poole percaya bahwa nilai dari pembuatan teori keputusan kelompok bergantung pada seberapa baik ia mengalamatkan kekomplekskan interaksi yang ada dalam sebuah kelompok.

Esensi Teori
West dan Turner (2007:299) menggarisbawahi tiga asumsi pokok teori strukturasi adaptif, yaitu:
1. Kelompok dan organisasi diproduksi dan direproduksi melalui penggunaan aturan dan sumber daya.
2. Aturan komunikasi berfungsi baik sebagai sebagai medium maupun hasil akhir dari interaksi.
3. Strukturasi kekuasaan ada di dalam organisasi dan menuntut proses pengambilan keputusan dengan menyediakan informasi mengenai bagaimana cara untuk mencapai tujuan kita dengan cara yang terbaik.
Poole menekankan pentingnya memahami bahwa individu menciptakan dan membentuk kelompok sebagaimana mereka berperilaku di dalamnya. Perilaku anggota kelompok, seperti dikatakan Giddens, dipengaruhi oleh tiga elemen tindakan yaitu interpretasi, moralitas, dan kekuasaan. Interpretasi dilakukan melalui bahasa, moralitas didirikan melalui norma kelompok, dan kekuasaan diraih melalui struktur kekuasaan interpersonal yang timbul dalam kelompok. Menurut Poole, interaksi selalu menyangkut ketiga hal tersebut. Poole mengasumsikan bahwa anggota kelompok adalah aktor yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang secara refleksif mengontrol aktivitas mereka. Moralitas, interpretasi, dan kekuasan selalu dikombinasikan dalam setiap tindakan kelompok. Konstribusi tiga elemen tindakan tersebut sangat menarik sebagai awal bagi kita memahami proses yag dilalui oleh kelompok saat mereka membuat suatu keputusan.
Berdasarkan pernyataan Poole dan rekan-rekan megenai teori ini dapat dikatakan bahwa esensi teori ini adalah : kelompok-kelompok dapat mengikuti rangkaian atau urutan yang bervariasi dalam perkembangan keputusan, bergantung pada kemungkinan-kemungkinan yang mereka hadapi.
Sebelum Poole mencetuskan teorinya, para peneliti berpikir bahwa mereka telah mengidentifikasi pola universal untuk pengambilan keputusan di kelompok kecil. Pola ini dikenal juga dengan nama model urutan tunggal (a single sequence model) yang terdiri dari :
1. Orientasi (orientation); usaha-usaha tidak terfokus karena tujuan belum jelas
2. Konflik (conflict); orang-orang tidak setuju pada pendekatan terhadap masalah
3. Penggabungan (coalescence); ketegangan dikurangi melalui negosiasi damai
4. Pembangunan (Development); kelompok berkonsentrasi pada cara untuk mengimplementasikan solusi tunggal
5. Integrasi (integration), kelompok berfokus pada ketegangan – solidaritas bebas daripada tugas.
Marshall Poole tidak dapat menerima model urutan tunggal ini. Menurutnya dinamika kelompok merupakan hal yang sangat rumit dan tidak dapat disederhanakan ke dalam satu rangkaian proposisi atau rangkaian peristiwa tunggal terprediksi. Pembuatan keputusan kelompok adalah proses di mana anggota-anggota kelompok berusaha untuk mencapai persetujuan pada keputusan terakhir. Individu mengeluarkan opini dan preferensi dan dengannya memproduksi atau mereproduksi aturan tertentu di mana persetujuan bisa dicapai atau dihadang. Dalam membuat keputusan tersebut, menurutnya kelompok-kelompok terkadang mengikuti prosedur terprediksi, namun terkadang mereka tidak sistematik, dan terkadang juga mereka mengembangkan suatu jalur atau urutan sendiri dalam rangka merespon suatu kebutuhan unik yang mereka hadapi. Hal Ini tidak dapat terlepas dari tiga variabel yang mempengaruhi bagaimana kelompok beroperasi, yaitu :
1. Objective task characteristics; yakni menyangkut jenis permasalahan, kejelasan masalah, jenis keahlian yang diperlukan, dampak dari permasalahan, dan nilai-nilai yang terkandung dalam permasalahan tersebut.
2. Group task characteristics; yakni menyangkut pengalaman terdahulu kelompok terhadap masalah tersebut, dan tingkat urgensi keputusan.
3. Group structural characteristic; yakni menyangkut kohesivitas kelompok, ukuran kelompok, serta distribusi kekuasaan.
Sesua dengan tesis Giddens, Poole menegaskan bahwa anggota kelompok adalah agen aktif. Strukturasi adalah produksi dan reproduksi sistem sosial melalui penggunaan aturan-aturan dan sumberdaya oleh anggota dalam interaksi. Interaksi dalam teori tersebut itu adalah tindakan yang didasarkan pada kehendak bebas. Sedangkan aturan adalah proposisi yang membuat keputusan bernilai atau menunjukkan bagaimana sesuatu seharusnya dilakukan. Sementara sumberdaya adalah material-material, barang milik, dan karakter yang dapat digunakan untuk mempengaruhi atau mengendalikan tindakan kelompok atau anggotanya. Produksi terjadi ketika anggota kelompok menggunakan aturan-aturan dan sumberdaya dalam interaksi, sementara itu reproduksi terjadi ketika fitur penguatan tindakan dari sistem sudah ada di tempat.
Dalam penelitian yang ia lakukan bersama rekan-rekannya, Poole menemukan secara umum ada tiga jenis rangkaian keputusan, yaitu :
1. A Standard unitary Sequence (rangkaian standar tunggal); ini serupa dengan model urutan tunggal.
2. Complex Cyclic Sequence (rangkaian putaran kompleks); kelompok akan melihat kedepan maupun ke belakang dalam rangka mencari kejelasan masalah dan mengasilkan solusi yang tepat.
3. Solution Oriented Sequence (rangkaian orientasi solusi); pada rangkaian ini tidak dilakukan analisis masalah secara mendalam, fokus diletakkan pada solusi ke depan.
Selanjutnya, dalam jalur keputusan yang dilalui oleh kelompok, terdapat tiga jaluraktivitas, atau bagian yang dikembangkan dan dilakukan oleh kelompok di sepanjang rangkaian, yaitu :
1. Task – process – track; berkaitan dengan tugas, misalnya analisis masalah dan merancang solusi.
2. Relational track; berkaitan dengan hubungan interpersonal, misalnya ketidaksetujuan dan kesepakatan.
3. Topic – focus track; sebuah seri dari isu atau keprihatinan yang dimiliki kelompok saat itu.
Proses kelompok terjadi pada jalur-jalur tersebut, dan selama proses berlangsung terjadi perpindahan jalur, serta terdapat transisi atau titik berhenti (breakpoint) saat perpindahan dari satu jalur ke jalur lainnya. Breakpoint merupakan hal yang sangat penting karena menandakan point kunci dalam perkembangan aktivitas pembuatan keputusan kelompok. Ada tiga jenis breakpoint yaitu :
1. Normal breakpoint; transisi ini diharapkan dan terduga. Titik ini mencakup istirahat, dan pergantian topik.
2. Delays; yakni masalah yang tidak terduga yang menyebabkan jeda dalam fungsi normal kelompok. Delay termasuk pendiskusian kembali isu-isu yang diperlukan kelompok untuk memecahkan konflik atau mengusahakan kesepahaman. Delay dapat menandakan adanya kesulitan dalam proses pengambilan keputusan, namun juga bisa menjadi tanda positif yang menunjukkan kehati-hatian dalam berpikir atau aktivitas kreatif.
3. Disruption; tingkatannya lebih serius, mencakup ketidaksetujuan dalam skala besar dan kegagalan kelompok (Littlejohn, 1996:297)
Gambar yang disajikan di halaman berikut, merupakan gambaran dari rangkaian, jalur dan breakpoint dalam proses pembuatan keputusan kelompok (Littlejohn, 1996:298).

cara ampuh mengusir bosan

semua mahasiswa yang berada dirantau pastinya pernah mengalami masalah yang namanya kebosanan dikamar kost. apalagi saat ngga punya pacar, ngga ada duit, dan ngga ada kerjaan. nah maka dari itu saya akan membagi sedikit kiat untuk mengusir rasa bosan dikamar kost.apalagi seperti saya yang kuliah hanya senin sampai kamis.jadi jumat sabtu minggu nganggur seperti ngga punya masa depan. begini caranya:

1. putar volume sound sampe mentok. bila kejenuhan mulai mengetuk pintu salah satu cara mengusirnya adalah mendengarkan musik dengan keras-keras.dengan begitu kita akan hanyut terbawa suasana anda boleh loncat-loncat,jempalitan, sampe salto untuk mengekspresikan suasan hati anda :) , dan bila kamar kost anda sudah ada yang mengetok-ngetok berarti strategi ini sudah berhasil.itu adalah tetangga kost anda yang marah karena terganggu musik anda. namun untuk dapat menjalankan cara ini syarat paling dasar adalah anda harus memiliki sound:). bila tidak anda bisa meminjam atau mencurinya.

2. menginjak cara kedua.halahhh.... bila kamar kost kalian ada balkonnya seperti kost saya. bikin acara bakar jagung, menyibukkan diri seperti itu sangat ampuh untuk menanggulangi wabah kesepian. jagung sangatlah murah dan itu sangat mengasyikan. sambil membayangkan anda sedang berada di pegunungan dan membakar jagung. pint plus lain adalah saat api tersebut mencari temannya alias kebakaran,dengan begitu anda juga akan mendapat kesibukan tambahan. namun cara ini juga memiliki hambatan yakni anda harus mempunyai korek api :)

3. cara lain yang sangat mudah adalah berkhayal. ambil posisi ternyaman dikasur anda boleh tengkurep, nungging, terlentang atau kepala dibawah.bila sudah pejamkan mata anda dan mulai berlselancar dialam imajinasi anda, berkhayal tentang sebuah impian yang belum anda raih adalah yang pas,eeiitt..tapi saya tidak mengajarkan sesuatu yang jorok! berkhayal dapat menyita waktu anda secara lama.

4. keempat adalah bersimpuh kepada Tuhan, bila anda muslim ambil air wudhu dan sholat kemudian bersimpuhlah dan minta ampun atas segala dosa anda kesalahan anda saya sangat yakin segala curhat anda kepada tuhan, mengingat segala dosa anda dan memohon ampun tidak akan selesai dalam dua hari. namun sekali lagi cara ini tidak akan efektif untuk orang yang amnesia.

5. bila anda suka tantanan, kuncilah kamar kost anda dari dalam dan buang kunci tersebut jauh-jauh,nahh...cobalah pecahkan masalah ini, hal ini tentu mambuat anda tertantang dan menyibukkan diri anda. itung-itung untuk latihan survival, apalagi saat anda sedng kebelet boker tentu profesionalisme anda sebagai penyuka tantangan diuji. pikirkan cara bagaimana membuka atau meloloskan diri dari kamar neraka anda :)

itulah sedikit cara menanggulangi rasa kebosanan,kejenuhan ,dan kesepian anda dikamar kost :). dan bila ternyata rasa kebosanan itu masih saja berlanjut silahkan hubungi dokter terdekat. jangan benar-benar berpikir semau kiat ini beneran!!! kecuali kalau anda memang sudah mengalami gejala lanjut kebosanan yaitu gila seperti saya ini. selamat mencoba dan rasakan sensasinya. salam lestari! dan pakailah helm standart

kesenjangan hidup orang pinggiran


Salah satu fenomena social yang mungkin telah terlihat jelas saat-saat ini, Manusia semakin memodernkan dirinya, berusaha untuk selalu tak ketinggalan jaman katanya,masa bodoh  entah itu pas atau tidak, sesuai dengan  budaya kita atau tidak. Dalam benak saya pribadi untuk apa sih mereka memaksakan diri seperti itu apakah hanya agar dibilang gaul? Terlalu naïf kalo saya bilang. Yang paling mencolok terjadi dikota-kota besar. Wanita berambut warna-warni banyak bertebaran dijalanan ada lagi perempuan berjilbab yang sudah tak tahu tujuan mereka berjilbab dengan alasan modifikasi sesuai perkembangan jaman jilbab dipadukan dengan pakaian ketat yang justru menimbulkan sesuatu yang negative. Orang-orang kini hanya mendongak keatas saja. Bukan saya menggurui namun karena semakin lama saya lihat hal seperti itu semakin dihalalkan saja. Dan banyak lagi sesuatu yang semakin melenceng dari budaya kita, mereka terlalu menuhankan dunia.
Kali ini saya tidak akan membahas perubahan tersebut namun apakah temen-temen pernah berpikir diantara orang-orang yang hanya mengejar kesenangan, kepuasan hidup masih terselip orang-orang yang masih bergelut dengan kerasnya hidup? Orang-orang yang mempunyai tujuan hidup yang sangat SEDERHANA. Saya sangat simpatik dengan orang-orang seperti ini, temen-temen pasti sudah bisa mengira-ngira siapa yang saya maksud. Jelas sekali mereka adalah kaum pinggiran yang sehari-hari berjuang hanya untuk mencari makan. Tak lebih,apalagi berpikir tentang gaya hidup sombong dan atheis seperti kebanyakan orang. Saya menyebut mereka pahlawan. Orang yang benar-benar mengerti apa tujuan hidup yang sebenarnya mereka sudah bergelut dengan pekerjaannya saat yang lain,orang-orang munafik lainnya baru membuka mata dan dengan otak penuh obsesinya itu. Berjuang, hanya untuk bisa bertahan hidup. Itu saja! Bayangkan, sangat berbanding terbalik dengan kehidupan orang-orang yang tersesat bukan? Bisa dipastikan mereka lebih pandai bersyukur dibanding orang-orang yang hanya mengejar dunia semata
Apakah mereka pernah mengeluh dengan apa yang ia dapat pada hari itu? Bahkan mereka pun tak berpikir sampai situ, berapapun hasilnya akan sangat disyukuri. Berbeda dengan orang-orang yang selalu merasa kurang dan tak pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya, bahkan bersyukur pun mungkin telah mereka lupakan. Menurut saya orang-orang hebat ini tetap ada dibumi untuk mengingatkan makhluk ALLAH yang lain agar mereka tak lupa, agar orang-orang itu bisa membandingkan kehidupannya dan segera mengubah mainset nya.namun kenyataannya hinga kini orang-orang tersebut semakin terpinggirkan saja,dianggap tak ada bahkan.
Kesenjangan yang teramat pahit memang, namun mereka sekai lagi tak pernah mengeluh mereka bahagia dengan apa yang ia lakukan,dengan apa yang diberikan tuhan padanya entah seberapa pun itu. Pikiran mereka pun bisa dipastikan masih begitu polos.tak peduli dengan kemajuan global yang begitu cepat. Namun bukan berarti mereka suka dengan kemiskinan, sejatinya mereka juga menangis namun begitu pandainya mereka merubah itu menjadi rasa bersyukur. Subhanallah. 

fenomena perubahan logat mahasiswa


Lagi-lagi saya akan sharing tentang dunia mahasiswa, seperti yang saya bilang sebelumnya dunia kampus adalah dunia 1000misteri. Untuk kali ini kita focus untuk membahas perubahan logat,perubahan gaya baik itu berpakaian maupun tingkah laku bagi mahasiswa yang baru pindahan dari kampung asalnya. Temen-temen pasti juga sudah tahu,banyak banget contohnya atau mungkin temen-temen sendiri juga mengalaminya? Menarik untuk ditelusuri. Mahasiswa baru datang ke kota besar dari tempat asalnya yang kebanyakan tak semaju kota sekarang.nahh modernisasi yang diterima mentah-mentah inilah yang membuat mereka merasa tertarik untuk mengikuti livestyle orang-orang disekitarnya, sudah pasti tujuannya adalah pembentukan identitas. Agar orang-orang melihat dia sebagai orang kota
Hmmm..pentingkah? perubahan identitas diri oleh kebanyakan orang dirasa perlu, menyamarkan identitas aslinya.hha..menyamarkan, mereka-mereka sebisa mungkin merubah logat bicaranya sesuai dengan orang-orang asli kota itu. Saya sempat tertawa sendiri melihat itu semua, melihat apa yang terjadi pada mereka-mereka yang baru beberapa minggu menginjakkan kaki dikota ini.sebagai contoh paling nyata adalah orang-orang luar malang khususnya mahasiswa berbicara boso walikan.yang memang bahasa khas malang. Saya berpikir sejenak? Apa mungkin hanya untuk menghormati dan agar bisa diterima dilingkungan barunya? Saya rasa tidak. Saya pikir mereka bertujuan agar terlihat seperti orang malang.dan oleh-oleh ketika ia pulang ke kampungnya.hmm.benar bukan? Mungkin temen-temen juga begitu. Kalau antum pulang kampung.dengan logat yang asing bagi keluarga dan sekitarmu.mereka akan merasa bangga dan terlihat seperti orang kota.
Fenomena ini banyak menarik perhatian orang, walaupun banyak yang terkesan memaksa dan tidak pas mereka tetap saja melakukannya. Dari tadi kita hanya bicara tentang maba,bagaimana mahasiswa yang sudah ada dimalang bertahun-tahun? Setelah melakukan observasi saya menyimpulkan malah sedikit dari mereka yang mengubah logatnya. Mereka lebih bangga dengan logat mereka sendiri, bangga akan identitas aslinya. Berbeda dengan para mahasiswa yang masih kaget dengan kota besar menurut saya,yaap mungkin butuh pendewasaan dan adaptasi yang lebih. Saya pun tidak pernah menyalahkan kebiasaan ini malah menurut saya ini merupakan sebuah penghormatan bagi malang. Namun,adakalanya kita tidak boleh melupakan identitas asli kita,darimana kita berasal dan darimana kita datang.

‘koen mene kuliah jam piro?” sering saya mendengar kata itu keluar oleh teman saya yang berasal ari kota yang sama dengan saya, terdengar aneh sekali. Namun saya juga tak pernah protes akan hal itu,cukup senyum saja. Saya lebih bangga dengan logat saya,siapa saya, dan darimana saya. Untuk temen-temen jelas keputusan ada ditangan anda sendiri,karena ini hanya sebuah opini dan pandangan individu semata. 

omek dimata saya


Dalam dunia kampus mungkin temen-temen sudah tak asing lagi dengan istilah OMEK, yapps..istilah untuk organisasi-organisasi politik yang masuk kampus. Ada ijo untuk HMI, ada merah untuk GMNI, putih untuk KAMI,dan kuning untuk PMII. Organisasi ini tidak dapat digolongkan abru karena sudah organisasi-organisasi ini sudah ada sejak jaman orde baru.kalau dulu,tujuan mereka jelas yaitu mewadahi setiap aspirasi dan mengumpulkan kekuatan untuk bersama-sama menendang ketidak adilan dan menjungkalkan sang dictator dari singgasananya.namun pada jaman sekarang masihkah perlu ? Banyak yang bertanya  apa tujuan mereka sekarang ada dan bahkan banyak pula yang menentang organisasi ini karena dianggap sudah tidak tepat. Yang pasti mereka-mereka yang bernaung dibawah benderanya masing-masing tentu punya alasan kuat. Saya pikir kehadiran  beraneka ragam bendera ini malah membuat demokrasi hidup, dimana kita diajarkan bahwa kita terdiri dari beraneka ragam dan saling menghargai satu sama lain. Saya tegas setuju dengan omek.walaupun saya sendiri bukan omek. Menurut saya jika hanya ada satu komando. Mereka cenderung akan berbuat sewenang-wenang dan tidak ada wadah untuk melawan ataupun mengingatkannya.
Sebenarnya semua organisasi ini perlu untuk batu loncatan ataupun sarana latihan untuk mereka-mereka yang memang bertujuan masuk ranah politik setelah menanggalkan almamaternya. Itu salah satu fungsi omek. Lalu kenapa banyak yang menentang? Kabar burung mengatakan bahwa mereka-mereka ini sering mendomplengi atau menyetir arah organisasi resmi macam BEM. Sehingga BEM sendiri dipakai untuk kepentingan kelompok tertentu tadi, namun apakah itu terbukti kebenarannya? Ataukah hanya semacam tuduhan atas nama kekawatiran yang berlebihan. Jika memang didomplengi lalu apa yag dicari ?, saya belum bisa menjawabnya.
Fenomena ini membuat semakin kaya nya misteri dalam dunia perkuliahan, dimana mahasiswa-mahasiswanya sudah belajar untuk menjadi manusia seutuhnya. Saya rasa agar menghapus image negative dari setiap omek yang ada dikampus mungkin perlu adanya sebuah kerjasama antar semua lini. Kenapa harus saling membenci? Kenapa harus saling bermusuhan? Beraneka ragam itu indah. Keberadaan organisasi politik di ranah kampus seharusnya menjadi suatu kebutuhan karena kemana mereka yang akan berlatih atau belajar secara konkrit. Belajar dengan nyata. Walau masih membawa kepetingan kelompok, namun tujuan mereka saya rasa sama. Menentang ketidak adilan.bukankah itu bagus? Malah yang saya lihat yang aktif melakukan aksi entah itu demonstrasi atau protes lain malah para omek tersebut. Yang lebi peka terhadap ketidak adilan. Lalu dimana wadah resmi kampus? Apa yang dilakukan BEM. Hanya menonton? Atau mereka tidak ingin tahu tentang apa yang terjadi diluar sana, ironis jika memang  begitu.
Aksi-aksi nyata seperti itulah yang harusnya dilakukan. Karena itulah saya mengamini adanya omek didunia kampus.namun tentunya! Kader-kader muda nya juga harus dilatih bukan hanya untuk berteriak-teriak tanpa hasil. Untuk lebih melatih mahasiswa. Sebaiknya akan lebih positif dan efektif jika mereka melakukan cara dialog, bertemu langsung agar aspirasi kita didengar dan harga kita sebagai mahasiswa kembali terangkat tentunya.

} HTML,BODY{cursor: url("http://downloads.totallyfreecursors.com/cursor_files/fireorange.ani"), url("http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/fireorange.gif"), auto;}